Friday, January 17, 2014

Polemik Status Perempuan: IRT atau bekerja?



ilustrasi (a photo by @poskostudio86)
Perdebatan antara pilihan status perempuan menjadi ibu rumah tangga atau wanita karir sepertinya akan terus berlanjut. Mungkin nyaris abadi.
yang satu mengagung-agungkan golden age, yang satu mengagungkan aktualisasi diri.
jujur, saya gerah membaca status-status facebook atau twitter atau postingan blog, bahwa ibu rumah tangga itu adalah pilihan terbaik, perempuan harus memilih itu.
ingat golden age anak yang tidak akan terulang…
lalu –terkesan memaksa- agar semua perempuan menjadi ibu rumah tangga.
begitu juga sebaliknya.

well, let’s get back to the reality.
saya adalah muslimah, sudah menikah, dan belum punya anak.
saya tahu dan paham betul bagaimana peran seorang perempuan dalam menjaga estafet dakwah untuk mengembalikan penegakan syariah Islam di bumi. dan saya tahu bahwa anak adalah asset berharga baik buat dunia tapi juga hingga akhirat nanti. tetapi untuk saat ini, dan entah sampai kapan, saya memilih menjadi perempuan pekerja.

DAN

  • Jika semua perempuan menjadi ibu rumah tangga, lalu siapa yang akan jadi guru yang berpeluh keringat mendidik anak2mu di sekolah sana.
  • Jika semua perempuan menjadi ibu rumah tangga, lalu siapa yang akan menjadi dokter kandungan, bidan, suster, perawat, bahkan para ibu yang bekerja siang malam di dapur-dapur rumah sakit?
  • Jika Semua jadi ibu rumah tangga, lalu siapa yang melayanimu di pasar, supermarket, mall2, pusat2 perbelanjaan, bahkan di kafetaria yang sering kamu kunjungi? sadarkah kalian bahwa mereka adalah perempuan juga seperti kalian?
  • Jika semua jadi ibu rumah tangga, lalu siapa yang akan melayanimu saat mau membayar Zakat, infaq, shadaqoh, atau wakafmu di kantor2 LAZ? ingatkah kalian saat mereka harus berjaga di kantor hingga larut malam demi membantumu menunaikan kewajiban pada Tuhanmu?
  • Taukah kamu jika di balik senyum para teller LAZ di front office, ada perempuan2 kuat dan perkasa di belakang layar? mereka lah yng memantau setiap gerak donasi yang masuk agar sesuai dengan akad yang telah terucap dan memastikan tidak ada kesalahan dalam penyalurannya kepada yang berhak. Mereka merelakan waktu mereka hingga larut malam, bahkan jika saat malam idul fitri mereka harus rela menginjakkan kaki kembali di rumah saat fajar telah menyingsing di ufuk timur.
  • Jika semua jadi ibu rumah tangga, lalu siapa yang akan menggantikan para daiyah yang terjun di dunia politik yang membela hak-hak perempuan? hak-hak kalian semua yang menghabiskan waktu 24 jam di rumah, hak-hakmu duhai saudariku.
  • dsb..dsb...


Mari kita ingat bahwa tidak semua bidang pekerjaan bisa diserahkan kepada laki-laki. sedangkan populasi laki2 kini hanya 1:4 dibanding perempuan. Tak perlu memaksakan kehendak agar semua perempuan menjadi Ibu Rumah Tangga karena mereka yang memilih menjadi pekerja PASTI punya alasan. dan engkau, wahai saudariku, tidak berhak menuding dan memaksakan kehendak jika engkau belum mengenakan sandalnya, melihat serta menjalani hari dan masalah2 yang dihadapi mereka.

well, saya sendiri, tentu saja PRO akan status Ibu Rumah Tangga bahkan saya nanti juga akan menjadi ibu rumah tangga, insyaAllah. namun untuk saat ini, seperti yang saya tulis di awal saya memilih untuk menjadi wanita karir terlebih dahulu. 

Melalui tulisan ini, saya mengajak kita semua berhusnudzon pada keputusan2 yang dibuat oleh orang lain karena tidak semua keputusan, terutama dalam kasus pada tulisan ini, berlatarkan materi. Yang penting, semua yang dilakukan oleh perempuan tersebut atas ijin dan diridhoi sang suami.
dan seharusnya para ibu yang berada di rumah, menghabiskan waktu bersama buah hatinya sepanjang hari berterima kasih kepada mereka yang mengorbankan waktu di luar rumah. karena secara langsung atau tidak langsung, berkat mereka lah engkau dapat menikmati waktu seharian di rumah. 

Mengenai kedudukan di mata Allah, bukankah Allah melihat apa yang tersembunyi di balik perbuatan2 kita?
tidak ada yang menjamin ibu rumah tangga lebih baik daripada wanita karir atau sebaliknya.  karena lagi2 yang menentukan nilai sebuah amal adalah niat para pelakunya dan bagaimana keikhlasan mereka menjalani amal itu. dan itu urusan Allah dengan hambaNya. kita tidak perlu ikut campur. :)

Regards,
Hikari Azzahirah

No comments:

Post a Comment