Tuesday, February 1, 2011

masih ingin membuat ustadz [-ustadz itu] menangis?

tertanggal 31 januari 2011
22.30 wib


baru saja saya mengikuti agenda pelatihan untuk persiapan dauroh syahadah. subhanalloh, saya kagum dengan semangat-semangat mereka untuk memperbaiki bacaan Al Qur'an dan juga semangat mereka untuk menjadi bagian dari orang-orang yang membumikan al qur'an, menjadi seorang pengajar tahsin.
instrukturnya pun khusus datang dari jakarta ke dramaga hari minggu sore untuk mengajar kami. subhanalloh... *terharu saya*
durasi belajarnya pun tak terlalu lama, dari ba'da ashar hingga maghrib, kemudian diteruskan dari pukul 20.00 hingga 22.00.
sayang, saya cuma bisa menghadiri dari pukul 20.00 karena harus mengajar di bimbel :(( *alhamdulillah juga deng, karena masih bisa mengikutinya selama 2 jam*

di akhir agenda, ketika mata sudah ingin menutup [saya sih ga ngantuk sama sekali, karena sudah terbiasa untuk tidur di tengah malam. kalongdotkom]. instruktur bertausiyah.
begini ceritanya:
suatu ketika, di salah satu syuro ustadz dan beberapa orang yang lain sedang merumuskan muwashshofat aktivis dakwah. sang ustadz mengusulkan "membaca al qur'an dengan baik dan benar" menjadi salah satu muwashshofat tersebut. namun ada seorang peserta syuro yang berkata: "ustadz, bukankah yang lebih penting adalah mengamalkannya?"
sang ustadz pun menangis mendengar pendapat tersebut.
menangis karena membaca al qur'an sesuai dengan nabi muhammad saw dianggap "sepele dan kurang penting". padahal, bacaan seperti nabi muhammad itulah yang benar, yang insyaAlloh akan memberi kita lebih banyak fadhilah.
bagaimana bisa kita mengamalkannya jika membacanya saja kita masih patah-patah.
bukankah kita da'i sebelum menjadi apapun?
dan sepertinya ada yang mengganjal ketika seorang da'i tilawahnya bengkok disana-sini.
katanya mentor?
katanya murobbi?
jleb jleb jleb
*panah menusuk2 jantung*


bagi saya sendiri,
yang bacaannya masih harus sering dibenarkan
yang masih harus sering diingatkan
yang masih belum mampu mengingat hukum2 tajwid

saya sungguh iri kepada mereka yang tilawahnya mampu membuat hati saya bergetar
saya sungguh iri kepada mereka yang senandung bacaannya mampu membuatku terdiam dan menyimak sedalam-dalamnya
saya sungguh iri kepada mereka yang al qur'an terasa hidup di bibir mereka

dan subhanalloh, memang benar kata instruktur
ketika al qur'an dibaca dengan tajwidnya[yang benar], saya merasakan hal yang berbeda,
sangat berbeda jika dibandingkan dengan ketika dulu, sebelum mengenal tahsin
dan telinga ini menjadi terasa gatal ketika mendengar bacaan yang kurang baik
astaghfirulloh, meskipun saya masih sangat jauh dari sempurna, telinga ini menjadi begitu sensitif untuk bacaan yang kurang sesuai dengan tajwidnya. [ampuni aku ya Alloh]
ingin sekali saya membantu untuk membetulkan, tapi [bodohnya] saya masih sungkan. apalagi jika beliau adalah orang yang lebih tua. :((

saudaraku, mari kita perbaiki kembali tilawah kita.
insyaAlloh akan membantu kita menjadi lebih dekat kepada Alloh. aamiin.

No comments:

Post a Comment