Monday, October 17, 2011

sukses dalam Rumah Tangga dan Da'wah (part I)

bismillah...
saya ucapkan jazakallah khoiron katsiron kepada Pak Syarif Hidayat, seorang muharrik da'wah yang semangat menebar kebaikan. terima kasih atas taujih yang dikirimkan kepada saya melalui email.

sore ini saya menyebarkannya kembali melalui blog ini. semoga menjadi sebuah pembelajaran agar dapat membangun keluarga yang menjadi miniatur peradaban. aamiin.

Bandung, 16 Oktober 2011

Selama setengah hari, dari jam 8 hingga setengah 12 siang, DPD Kota Bandung membuat daurah a'iliyah. Singkat namun cukup efektif, padahal menghadirkan pembicara yang punya nama, antara lain Ust Tate, Ust. Jalal Asy Syatibi, Ummi Shibghoh, Ibu Diah Nurwitasari, dan Bapak Budi Darmawan..

Sedianya panitia menghadirkan Ibu Netty (istri Gubernur Jawa Barat) tetapi beliau bhalangan. Tema utamanya tentang membangun keluarga haraky. Yang sangat menyedot perhatian audiens (yang sebagian besar bersama pasangannya). sesi kedua agendanya mengangkat contoh nyata profil keluarga haraky, yaitu keluarga (almh) ustadzah Yoyoh dan pak Budi.

Dimulai dari ungkap pengalaman bu Diah bsm beliau sjk di jerman hg menetap di bdengan, diklimakskan dengan testimoni dr pak budi tentang keistimewaan (almh) Bunda Yoyoh yang kontan membuat ratusan pasang mata bercucuran airmata, haru dan kagum bercampuraduk. Berikut sy kutipkan sdkt yang disampaikan oleh bu Diah dan pak Budi.... Semoga bermanfaat!

# Menurut Ibu Diah, ada faktor2 yang membuat ust. Yoyoh bs sukses dalam karir rumah tangga dan karir dakwah, antara lain:

1. 1. Sangat efektif dalam waktu.

beliau menguasai semuanya meski tidak hrs mengerjakan semuanya sdri krn beliau pandai mendistribusikannya pada orang yang tepat.

2. 2. Mengistimewakan siapapun.

sehingga semua yang kenal beliau merasa punya tempat yang istimewa di hatinya. Keramahannya tidak dibuat2 dan biasa memanggil dengan panggilan yang disukai lawan bicaranya.


3. Tidak menunda dalam kebaikan.

apa yang bs dikerjakan saat itu, langsung dikerjakannya. Misal dalam suatu kesempatan meeting bu diah batuk dan serak, esoknya ktk bertemu lg ust. Yoyoh langsung menyodorkan obat batuk tanpa banyak bicara dan tawaran basa basi. Dalam kesempatan pertemuan internasional, ia pernah tiba2 mghilang ktk istirahat, dan dtg tepat wkt ktk acara dimulai, rupanya ia sempatkan berbelanja baju u salah seorang utusan akhawat dr salah satu negara peserta.


4.
Sangat mudah mengapresiasi kebaikan orang lain (dengan perhatian, dengan hadiah).

misal hr ke 5 ramadhan thn lalu, beliau mengirim pesan via BBM u komunitas akhawat: siapa yang sdh khatam al Quran hr ini saya beri hadiah! Kebetulan Bu Diah sudah khatam, 2 hari kemudian paket hadiah yang dijanjikan sampai di bdengan. 'hanya' rehal kayu untuk alas quran, tetapi perhatian pada berlomba dalam kebaikan dan upayanya memenuhi janji sangat luarbiasa! Tidak perlu bnyk tanya dan bnyk pertimbangan. Amalkan saja! Itu prinsipnya


5.
Bersemangat untuk memanfaatkan perjalanan & setiap ada kesempatan untuk beramal sholeh.

Beliau senantiasa memanfaatkan wkt untuk dekat dengan AlQuran dan menularkannya pada yang lain. Pernah dalam 1 kesempatan kunjungan selama 1 mg bu Diah bersama beliau ke suatu tempat, beliau mengajak anggota rombongan: 'yuk kt jadikan pjalanan kt sbg perjalanan qur'ani! kt hafalkan surah pilihan yang disepakati dan disetorkan di akhir perjalanan.' Semua peserta sepakat dan jadilah momen 1mg itu dimanfaatkan u kerja dan menghafal quran. Seminggu berselang ada yang hafal surah maryam, surah al hujurat, sesuai kesanggupan msg2. Perjalanan kerja yang sangat istimewa dan bernilai.


6.
Bersemangat untuk ittiba’ Rasulullah s.a.w dan para sahabat.

Beliau suka sekali mengutip sirah, kisah shahabat/shahabiyah u menyampaikan amalan2 baik mereka yang layak ditiru oleh kita semua. Di akhir testimoninya bu Diah diminta menyampaikan pesan, khususnya berkaitan dengan pengalaman beliau bsm uszh Yoyoh.

Pesannya: 'Jangan pernah menunda itikad baik karena kita tidak tahu waktu yang tersisa utk kita.'

wallahu a'lam.

Friday, October 14, 2011

kultwit pernikahan

nemu kultwit tentang pernikahan dari ustadz salim. semoga bermanfaat bagi kita semua, baik yang akan atau sudah menikah ^^
  1. Dalam isyarat Nabi tentang #Nikah, ialah sunnah teranjur nan memuliakan. Sebuah jalan suci untuk karunia sekaligus ujian cinta-syahwati.
  2. Maka #Nikah sebagai ibadah, memerlukan kesiapan & persiapan. Ia tuk yang mampu, bukan sekedar mau. “Ba’ah” adalah parameter kesiapannya.
  3. Maka berbahagialah mereka yang ketika hasrat #Nikah hadir bergolak, sibuk mempersiapkan kemampuan, bukan sekedar memperturutkan kemauan.
  4. Persiapan #Nikah hendaknya segera membersamai datangnya baligh, sebab makna asal “Ba’ah” dalam hadits itu adalah “Kemampuan seksual.”
  5. Imam Asy Syaukani dalam Subulus Salam, Syarh Bulughul Maram menambahkan makna “Ba’ah” yakni: kemampuan memberi mahar & nafkah. #Nikah
  6. Mengompromikan “Ba’ah” di makna utama (seksual) & makna tambahan (mahar, nafkah), idealnya anak lelaki segera mandiri saat baligh. #Nikah
  7. Jika kesiapan #Nikah diukur dengan “Ba’ah”, maka persiapannya adalah proses perbaikan diri nan tak pernah usai. Ia terus seumur hidup.
  8. Izinkan saya membagi Persiapan #Nikah dalam 5 ranah: Ruhiyah, ‘Ilmiyah, Jasadiyah (Fisik), Maaliyah (Finansial), Ijtima’iyah (Sosial)
  9. Persiapan #Nikah perlu start awal. Salim nikah usia 20 th, tapi karena persiapannya dimulai umur 15 th, maka tak bisa disebut tergesa.
  10. Sebaliknya, ada orang yang #Nikah-nya umur 30 th, tapi persiapan penuh kesadaran baru dimulai umur 29,5 th. Itu namanya tergesa-gesa.
  11. Kita mulai dari yang pertama; Persiapan Ruhiyah. Ialah nan paling mendasar. Segala persiapan #Nikah lainnya berpijak pada yang satu ini.
  12. Persiapan Ruhiyah (Spiritual) ada pada soal menata diri menerima ujian & tanggungjawab hidup nan lebih berlipat, berkelindan. #Nikah
  13. (QS Ali Imran 14): Sebelum nikah ujian kita linear: pasangan hidup. Begitu #Nikah berjejalin: pasangan, anak, harta, gengsi, investasi.
  14. Sebelum #Nikah, grafik hidup kita analog dengan amplitudo kecil. Setelah menikah, ia digital variatif; kalau bukan NIKMAT, ya MUSIBAH.
  15. Maka termakna jua dalam Persiapan Ruhiyah terkait #Nikah adalah kemampuan mengelola SABAR dan SYUKUR menghadapi tantangan-tantangan itu.
  16. SABAR & SYUKUR itu semisal tentang pasangan; ia keinsyafan bahwa tak ada yang sempurna. Setiap orang memiliki lebih & kurangnya. #Nikah
  17. Khadijah itu lembut, penyabar, penuh pengertian, & dukung penuh perjuangan. Tapi tak semua lelaki mampu beristeri jauh lebih tua. #Nikah
  18. ‘Aisyah: cantik, cerdas, lincah, imut. Tapi tak semua lelaki siap dengan kobar cemburunya nan sampai banting piring di depan tamu #Nikah
  19. Persiapan Ruhiyah #Nikah adalah mengubah ekspektasi menjadi obsesi. Dari harapan akan apa nan diperoleh, menuju nan apa akan dibaktikan.
  20. Jika #Nikah masih terbayang sbb: lapar ada yang masakin, capek ada yang mijitin, baju kotor dicuciin. Itu ekspektasi. Bersiaplah kecewa.
  21. Ekspektasi macam itu lebih tepat dipuaskan oleh tukang masak, tukang pijit, & tukang cuci;) Ber-obsesilah dalam #Nikah. “Apa obsesimu?”
  22. Obsesi sebagai Persiapan Ruhiyah #Nikah semisal: Bagaimana kau akan berjuang sebagai suami/isteri ayah/ibu untuk mensurgakan keluargamu?
  23. Usai itu, di antara persiapan Ruhiyah #Nikah adalah menata ketundukan pada segala ketentuanNya dalam rumahtangga & masalah-masalahnya.
  24. Lalu persiapan ‘Ilmiyah-Tsaqafiyah (Pengetahuan) #Nikah, meliput banyak hal semisal Fiqh, Komunikasi Pasangan, Parenting, Manajemen, dll
  25. Bukan Ustadz-pun, tiap muslim harus sampai pada batas minimal lmu syar’i nan dibutuhkan dalam berhidup, berinteraksi, berkeluarga #Nikah
  26. Lalu tentang komunikasi pasangan; seringnya masalah rumahtangga bukan krn ada maksud jahat, melainkan maksud baik nan kurang ilmu #Nikah
  27. Sungguh harus diilmui bahwa lelaki & perempuan diciptakan berbeda dengan segala kekhasannya, untuk saling memahami & bersinergi. #Nikah
  28. Contoh beda hadapi masalah & tekanan; Wanita: berbagi, didengarkan, dimengerti. Lelaki: menyendiri, kontemplasi, rumuskan solusi #Nikah
  29. Bayangkan jika perbedaan itu dibawa dalam sikap dengan asumsi: “Aku mencintaimu seperti aku ingin dicintai” Konflik pasti meraja. #Nikah
  30. ->Suami pulang dgn masalah berat disambut isteri yg memaksa ingin tahu & dengar problemnya, padahal ia ingin sendiri & bersolusi. #Nikah
  31. Lihatlah Khadijah saat Muhammad pulang dr Hira’ dengan panik & resah. Dia tak bertanya, dia sediakan ruang sendiri & kontemplasi. #Nikah
  32. Sebaliknya-> Isteri yg sdg ingin didengar lalu curhat ke suami, suami malah tawarkan solusi. Padahal dia hanya ingin dimengerti. #Nikah
  33. Isteri: Mas aku capek, rumah berantakan bla-bla-bla. Suami: OK, kita cari pembantu. I: O, jadi aku dianggap pembantu?!. S: Lho?! #Nikah
  34. BEDA: Istri cerita untuk ringankan beban hatinya. Dimengerti itu solusi > Jawab suami: Oh, kalau gitu biar nanti Salma pulang sendiri” Dijamin para isteri gondok, sebab maksudnya: Tolong jemput Salma! #Nikah
  35. BEDA. Bagi suami masalah hrs disederhanakan (Spiral ke dalam). Bagi isteri, tiap detail & keterkaitan sgt penting (Spiral keluar) #Nikah
  36. Dan banyak lagi BEDA yang jk tak diilmui potensial jd masalah serius. Lengkapnya di Bahagianya Merayakan Cinta #BMC http://bit.ly/gW5rG4
  37. Next: Parenting. Waktu kita sempit; belum puas belajar jd suami/isteri, tiba-tiba sdh jd ayah/ibu. Maka segeralah belajar jd Ortu #Nikah
  38. Anak adl karunia yg hiasi hidup, amanah (lahir dalam fitrah, kembalikan ke Allah dalam fitrah), pahala, sekaligus fitnah (ujian). #Nikah
  39. Maka mengilmui hingga detail-detail kecil soal parenting adalah niscaya. ie Hadits: renggutan kasar pd bayi membekas di jiwa. #Nikah
  40. Uji kecil buat calon ibu & ayah: “Apa yang anda lakukan saat anak lari-larian di depan rumah lalu GABRUSS, jatuh berdebam?” #Nikah
  41. LAZIM: “Sudah dibilang, jangan lari-lari! Tuh, jatuh kan!” -> Anak belajar utk menganggap dirinya selalu bersalah dalam hidupnya. #Nikah
  42. LAZIM: “iih, batunya nakal ya Nak! Sini Ibu balaskan!” -> Anak belajar salahkan keadaan sekitar utk excuse dr kurangnya ikhtiyar. #Nikah
  43. LAZIM: “Hm, nggak apa-apa, nggak sakit, cuma kayak gitu!” -> Ketakpekaan. Hati-hati dibalas saat kita sdh tua & sakit-sakitan;P #Nikah
  44. Alangkah bahaya tiap huruf dari lisan bg masa depan anak kita. Latihlah dia agar lempang (tanpa dusta & tipu) dlm taqwa (QS 4: 9) #Nikah
  45. Kita masuk persiapan Jasadiyah (Fisik) untuk #Nikah. Ini jua perkara penting sebab terkait dengan keamanan, kenyamanan, & ketenagaan.
  46. Awal-awal, periksa & konsultasilah ke dokter atas termungkinnya sgl penyakit tubuh, lebih-lebih nan terkait kesehatan reproduksi #Nikah
  47. Per #Nikah-an itu utuh di segala sisi diri, maka menjalani terapi & rawatan tertentu untuk membaikkan fisik adalah jua hal yang utama.
  48. Fisik kita & pasangan bertanggungjawab lahirkan generasi penerus yang lebih baik. Maka perbaiki daya & staminanya sejak sekarang. #Nikah
  49. Perbaiki pola asup, tata gizi seimbang. Allah akan mintai tg jawab jajan sembarangan jika ia jadi sebab jeleknya kualitas penerus #Nikah
  50. Bangun kebiasaan olahraga ilmiah; tak asal gerak tapi membugarkan, menyehatkan, melatih ketahanan. Tugas fisik berlipat 3 setelah #Nikah
  51. Jadi, target persiapan fisik #Nikah itu 3 tingkatan; PRIMER: sehat & aman penyakit, SEKUNDER: bugar & tangkas, TERSIER: beauty & charm;)
  52. Selanjutnya, persiapan Maliyah (finansial), ini yang paling sering menghantui & membuat ragu sepertinya. Padahal ianya sederhana. #Nikah
  53. Yang tepat bicara persiapan Maliyah ini sebenarnya Ust. @ahmadgozali, izinkan Salim lancang singgung sedikit dgn ilmu nan dangkal #Nikah
  54. Konsep awal; tugas suami adalah menafkahi, BUKAN mencari nafkah. Nah, bekerja itu keutamaan & penegasan kepemimpinan suami. #Nikah
  55. Ingat & catat: Persiapan finansial #Nikah sama sekali TIDAK bicara tentang berapa banyak uang, rumah, & kendaraan yang harus anda punya.
  56. Persiapan finansial #Nikah bicara tentang kapabilitas hasilkan nafkah, wujudnya upaya untuk itu, & kemampuan kelola sejumlah apapun ia.
  57. Maka memulai per #nikah-an, BUKAN soal apa anda sudah punya tabungan, rumah, & kendaraan. Ia soal kompetensi & kehendak baik menafkahi.
  58. ‘Ali ibn Abi Thalib memulai #Nikah bukan dari nol, melainkan minus: rumah, perabot, dll dari sumbangan kawan dihitung hutang oleh Nabi.
  59. Tetapi ‘Ali menunjukkan diri sebagai calon suami kompeten; dia mandiri, siap bekerja jadi kuli air dengan upah segenggam kurma. #Nikah
  60. Maka sesudah kompetensi & kehendak menafkahi yang wujud dalam aksi bekerja -apapun ia-, iman menuntun: #Nikah itu buat kaya (QS 24: 32)
  61. Agak malu, Salim juga minus saat nikah; hutang yang terrencanakan terbayar dalam 2 tahun menurut proyeksi hasil kerja saat itu. #Nikah
  62. Tetapi Allah Maha Kaya, dan #Nikah menjadi pintu pengetuknya. Hadirnya isteri menjadi penyemangat; hutang itu selesai dalam 2 bulan.
  63. Buatlah proyeksi nafkah #Nikah secara ilmiah & executable, JANGAN masukkan pertolongan Allah dlm hitungan, tapi siaplah dgn kejutanNya;)
  64. Kemapanan itu tidak abadi. Saya memilih #Nikah di usia 20 saat belum mapan agar tersiapkan isteri untuk hadapi lapang maupun sempitnya;)
  65. Bahkan ketidakmapanan yang disikapi positif menurut penelitian Linda J. Waite (Psikolog UCLA), signifikan memperkuat ikatan cinta #Nikah
  66. Ketidakmapanan nan dinamis menurut penelitian Karolinska Institute Swedia, menguatkan jantung, meningkatkan angka harapan hidup. #Nikah
  67. Karolinska Institute: kemapanan lemahkan daya tahan jantung thd serangan. Di Swedia, biasanya yang kena infark langsung wafat PNS #Nikah
  68. Sebuah per #Nikah-an yang utuh punya visi & misi kemasyarakatan untuk menjadi pilar kebajikan di tengah kemajemukan suatu lingkungan.
  69. Untuk itu, mereka yang akan me #Nikah hendaknya mengasah keterampilan sosialnya jauh-jauh hari, sekaligus sebagai bagian pendewasaan.
  70. Membiasakan mengkomunikasikan prinsip-prinsip nan diyakini terkait per #Nikah-an & kehidupan kepada Ortu bisa jadi bagian dari latihan.
  71. Prinsip Quran tentang hubungan dengan Ortu ialah ‘persahabatan’, Wa Shaahibhuma (QS Luqman 15). Gunakan itu untuk dewasakan diri. #Nikah
  72. Maka kadang Salim menilai kedewasaan kawan yang ingin me #Nikah dengan keberhasilannya untuk komunikasikan prinsip pada Ortu scr ma’ruf.
  73. Persiapan kemasyarakatan: kumpulkan modal sosial sebanyak-banyaknya; bahasa, ilmu sosio-antropologis, kelincahan organisasi, dll. #Nikah
  74. Per #Nikah-an kita harus hadir sbg pengokoh kebajikan masyarakat, bukan beban ataupun pelengkap-penderita. Utama lagi, jadi pelopor.
  75. Mulailah dgn perkenalan berkesan pada lingkungan. Saat walimah nanti; tetangga rumah tinggal setelah #Nikah adl yg plg berhak diundang.
  76. Jika harus pindah tempat tinggal, mulai jg dgn perkenalan. Pr tokoh: datangi silaturrahim. Masyarakat umum: undang tasyakuran. #Nikah
  77. Stl itu, target besarnya adl menjadikan pintu rumah kita sbg yang plg pertama diketuk saat masyarakat sekitar memerlukan bantuan. #Nikah
  78. Tentu berat menopangnya sendiri. Mk yang harus kita punya bkn hanya ASET, melainkan juga AKSES. Bangun jaringan slg menguatkan. #Nikah
  79. Ilmuilah bgmn cr menguruskan jaminan kesehatan miskin, beasiswa tak mampu, biaya RS, mobil jenazah gratis, dll DEMI TETANGGA KITA #Nikah
  80. Tampillah sbg yang penting & bermanfaat dlm hajat-hajat kebahagiaan maupun duka tetangga, juga rayaan-rayaan sosial-masyarakat. #Nikah
  81. Tampillah sbg yang terbaik sejangkau suai kemampuan; Imam Masjid, muadzin, Guru TPA, Bendahara RT, Ketua RW, Pendoa jenazah, dst #Nikah
  82. Tampillah sbg nan paling besar kontribusi dlm kebaikan-kebaikan sosial: Agustusan, Syawalan, Kerja Bakti, Arisan, Pengajian, dst #Nikah
  83. Ringkas kata untuk persiapan sosial #Nikah ini adalah bermampu diri utk menjadi pribadi & keluarga yg AMAN, RAMAH, BERMANFAAT #Nikah
  84. Tuntaslah KulTwit Persiapan #Nikah yg diambil dr bagian awal buku Bahagianya Merayakan Cinta #BMC http://bit.ly/gW5rG4 Semoga manfaat;)-end-

materinya manteb yak.haha. akhir bulan ini mau beli bukunya ah... :p "Bahagianya Merayakan Cinta"

Friday, August 5, 2011

menjadi wanita agung dengan maharmu

bismillah...
sedang ingin menulis tentang ini.
topik yang akan selalu menjadi bagian dari tema yg banyak dibicarakan oleh teman-teman di sekitarku.

apakah dia?
yaitu mahar.
heheheh *mohon maaf, aku pengen ketawa dulu*
aku nulis ini karena tergelitik dengan respon orang yang membaca status(YM)ku kemarin.
respon yg wajar, dan menurutku malah agak "lucu". ga perlu dibahas lah ya tentang status YM dan respon itu. ga penting.

oke, mari kita kupas sedikit mengenai mahar.



setauku, mahar adalah hak calon mempelai wanita ketika akan dinikahi seorang laki-laki.
dan untuk batas minimal dan maksimal nilai mahar yg diminta oleh akhwat(baca: wanita) itu tidak ada batasannya.
yang penting, kedua belah pihak ridho akan hal tersebut.

aku... kagum dengan shahabiyah yang maharnya ringan...

a. sepasang sandal
Dari Amir bin Robi`ah bahwa seorang wanita dari bani Fazarah menikah dengan mas kawin sepasang sendal. Lalu Rasulullah SAW bertanya,
"Relakah kau dinikahi jiwa dan hartamu dengan sepasang sendal ini? Dia menjawab "Rela". Maka Rasulullah pun membolehkannya (HR. Ahmad 3/445, Tirmidzi 113, Ibnu madjah 1888).
b. Hafalan Quran
Dari Sahal bin Sa`ad bahwa nabi SAW didatangi seorang wanita yang berkata "Ya Rasulullah kuserahkan diriku untukmu",
Wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang laki-laki yang berkata, "Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya".
Rasulullah berkata "Punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar? dia berkata "Tidak kecuali hanya sarungku ini"
Nabi menjawab "bila kau berikan sarungmu itu maka kau tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu". Dia berkata "aku tidak mendapatkan sesuatupun".
Rasulullah berkata " Carilah walau cincin dari besi". Dia mencarinya lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu Nabi berkata lagi "Apakah kamu menghafal qur`an?".
Dia menjawab "Ya surat ini dan itu" sambil menyebutkan surat yang dihafalnya.
Berkatalah Nabi "Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan qur`anmu" (HR Bukhori Muslim).
Dalam beberapa riwayat yang shahih disebutkan bahwa beliau bersabda " Ajarilah dia al-qur`an". Dalam riwayat Abu Hurairah disebutkan bahwa jumlah ayat yang diajarkannya itu adalah 20 ayat.
c.Tidak Dalam Bentuk Apa-apa.
ada suatu kisah yang sangat dikenal yaitu mahar pernikahan adalah keislaman calon suami.
siapakah wanita mulia itu?
Dari Anas bahwa Aba Tholhah meminang Ummu Sulaim lalu Ummu Sulaim berkata "Demi Allah, lelaki sepertimu tidak mungkin ditolak lamarannya, sayangnya kamu kafir sedangkan saya muslimah. Tidak halal bagiku untuk menikah denganmu. Tapi kalau kamu masuk Islam, keislamanmu bisa menjadi mahar untukku. Aku tidak akan menuntut lainnya". Maka jadilah keislaman Abu Tholhah sebagai mahar dalam pernikahannya itu. (HR Nasa`ih 6/ 114).

namun, Tak seorangpun yang berhak menghalangi keinginan wanita itu bila dia menginginkan mahar yang mahal.
Bahkan ketika Umar Bin Khattab Ra berinisiatif memberikan batas maksimal untuk masalah mahar saat beliau bicara diatas mimbar. Beliau menyebutkan maksimal mahar itu adalah 400 dirham. Namun segera saja dia menerima protes dari para wanita dan memperingatkannya dengan sebuah ayat qur`an.
Sehingga Umar pun tersentak kaget dan berkata "Allahumma afwan, ternyata orang -orang lebih faqih dari Umar".
Kemudian Umar kembali naik mimbar "Sebelumnya aku melarang kalian untuk menerima mahar lebih dari 400 dirham, sekarang silahkan lakukan sekehendak anda".

akan tetapi... (banyak amat ya namun dan tetapinya. hehe ^^v)
ingat hadits ini
“Wanita yang paling agung barakahnya, adalah yang paling ringan maharnya” (HR. Ahmad, Al Hakim, Al Baihaqi dengan sanad yang shahih)
karena aku yang kurang bagus ibadahnya, tilawahnya masih belum bagus..., QLnya masih belum bisa 12 rakaat, kadang lalai ketiduran abis subuh,
modal untuk menjadi wanita agung sangatlah sedikit...
keberadaan hadits ini sangatlah menenangkan...
karena... menjadi wanita yang agung itu mudah ya?
ringankan mahar... itu saja...
kemudian jadilah istri yang baik di mata suami *sotoi deh aye. padahal aye juga blum nikah.hehe :p*

kalau aku pribadi,
aku ga mikirin maharku (nanti) itu apa. maksudku,,, hal itu "bukan" sesuatu yang "urgent".
bahkan waktu aku lagi mupeng sama mushaf utsmani yang ada terjemahan bahasa indonesianya, aku rasa tak masalah kalau maharku cuman itu doang.hehe
so, terserah maharnya apaan... *tapi kalo dibilang terserah mah kayaknya jadi makin susah ya yg nyari? kasian deh sang ikhwan :)) =))*
percayalah padaku bahwa hadits tadi sangat ingin ku laksanakan :)

bagiku, keberanian seseorang untuk datang ke orang tuaku adalah sesuatu yang paling bernilai.
karena menurutku hal itulah yang membedakannya dengan laki-laki lain

*ceileh.. hehe. ijinkan aku untuk tertawa, karena aku agak geli waktu nulis ini. tapi aku serius lho...*

dan...
“Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya.” (HR. Ashhabus Sunan)

terima kasih atas infonya wahai para sumber
sumber satu
sumber dua

Saturday, July 30, 2011

maaf...

bismillah....

ramadhan tinggal sehasta....
degup jantung berdebar menantikan hilal di ufuk barat
akankah takdirku masih bersilangan dengan bulan cahaya itu?
sedang usia hanya Ia yang Maha Tahu

aku...
mohon maaf atas khilaf yang sering kali ku lakukan, disadari atau pun tidak...
aku... sungguh ingin Sekali menghampiri kalian satu per satu..
meminta maaf,,,
atas segala khilaf... :(

aku... minta maaf...
semoga kita,,, dipertemukan dengan Ramadhan,
untuk menyuci bersih jutaan titik dosa yang berceceran di hati
aamiin.
^^

Thursday, July 21, 2011

empat penyakit hati

bismillah...
assalamu'alaykum wr wb...
subhanallah... sudah lama tidak mengunjungi blog ini. sibuk dengan blogku yang lain. mohon maaf ya blogku sayang.. *peluk*
dan wow... ternyata sebentar lagi ramadhan tiba...
aku merasa sangat takut akan usia yang aku tak tau apakah bisa sampai ke sana atau tidak.
semoga mendapatkan hadiah itu lagi tahun ini. aamiin.

kali ini saya akan berbagi taujih yang saya dapatkan pekan lalu. semoga bermanfaat ^^

empat penyakit yang perlu dihindari (apalagi menjelang ramadhan yang suci ini)
1. hati yang tidak khusyu'
yaitu hati yang liar dan tidak mampu diberikan nasihat. mengalahkan kerasnya sebongkah batu yang akan lapuk ketika ditetesi air.
kemudian, apa indikator hati yang khusyu'?
@ mudah menerima nasihat
@ cepat menerima taujih -> fokus mengoreksi diri sendiri ketika mendapatkan taujih.
tidak sibuk menerka2 taujih tersebut untuk si anu, si itu, si ini. tujukan semua taujih yang terdengar untuk diri sendiri.
@ mudah tersentuh oleh ayat-ayat Al Qur'an

2. sulit diajak ibadah
berapa banyak ilmu yang kita miliki, saudaraku?
kemudian bandingkan dengan apa yang sudah kita praktekkan.
apakah perbedaannya melebihi kesenjaganan sosial yang terjadi di negara kita? >,<
jangan sampai ilmu yang dimiliki menjadi tidak bermanfaat karena implementasinya NOL.

3. doa yang tidak didengar
Allah memerintahkan kita untuk berdoa kepadaNYa.
“Berdoalah niscaya aku akan mengabulkannya”
salah satu penyebab tidak dikabulkannya doa adalah banyak bermaksiat.
ketika belum dikabulkan... jadikan wasilah untuk bersabar serta mengoreksi diri.
just believe that Allah swt will always give us more than what we ask

4. nafsu yang tidak pernah puas
ada dua hal yang melemahkan manusia : cinta dunia dan takut mati dan disebut sebagai Wahn.
tak pernah terpuaskan dengan dunia... pasti menyebabkan manusia tersebut takut mati.

yupz..
itu adalah sedikit yang bisa ku bagikan kepada teman-teman semuanya.
semoga kita semua selalu terjaga di koridor kebaikan. aamiin.

marhaban ya Ramadhan...

Friday, May 20, 2011

Abraham maslow vs Ibrahim as

bismillah

inspirasi berharga pagi ini dari dr. Hilmi


masih ingat dengan gambar ini?
hirarki yang mengajarkan kita bahwa hal yang HARUS dipenuhi TERLEBIH DAHULU adalah FISIK [makanan, minuman, dan pakaian].

doktrin yang dikonsumsi sejak sekolah hingga kuliah dan secara tidak sadar membuat pola tersendiri dalam otak kita bahwa prioritas dalam hidup adalah materi, materi, dan materi. yang lainnya menjadi nomer ke sekian.
oleh karena itu, wajarlah jika manusia sekarang cenderung MATERIALISTIS.
banyak orang yang stuck di level "basic needs" atau di "safety needs" sehingga kepekaan sosial terhadap lingkungan sangat-sangat rendah. bisa dilihat bagaimana dampaknya sekarang: kesenjangan sosial yang nyata terlihat.
atau mungkin ada pula yang bisa melampaui itu namun terjebak di level "self esteem"
merasa bangga ketika dihormati sebagai seorang tokoh. bangga akan pencapaian diri dan akhirnya lupa akan hal yang lebih esensial.
kalau sudah begitu, bagaimana mungkin aktualisasi diri tercapai?

coba kita bandingkan dengan konsep yang dibawa bapak para nabi: Ibrahim as
konsep yang dia bawa adalah haji:
1. wukuf
2. melempar jumrah
3. thawaf
4. sa'i
5. minum air zamzam

konsep ini berbanding terbalik dengan apa yang dibawa oleh abraham.
hal mendasar yang harus dipenuhi terlebih dahulu adalah spiritual.
yaitu bagaimana interaksi kita kepada Alloh SWT. karena sehebat apapun manusia, ia tak akan pernah bisa lepas dari Tuhannya.
kemudian dilanjutkan dengna penghargaan terhadap diri kita dengan menghilangkan semua hal negatif.
berlanjut dengan meningkatkan hubungan sosial kita [lihat bagaimana thawaf terjadi, semua ras berkumpul menjadi satu. tak ada perbedaan], kemudian mencari keamanan dengan selalu berusaha seoptimal mungkin. dan kemudianyang terakhir adalah materi.
subhanalloh...
lihat bagaimana millah Ibrahim membeirkan pedoman sempurna untuk memperkokoh hubungan vertikal anatara manusia dengan Tuhan dan juga menjaga keseimbangan hubungan antar manusia.
dan bandingkan dengan pandangan sekuler yang mengedepankan materi yang diwakili oleh Maslow.

wallahu a'lam bish shawwab

matraman, 20 mei 2011
thanks to dr. hilmi atas tausiyahnya pagi ini.

sumber gambar 1

Thursday, May 5, 2011

tabayun : sebuah seni berbicara

bismillah

"alhamdulillah..."
segera ucapkan kata itu ketika ada saudara kita yang sudi tabayun.
karena itu adalah bentuk dari sebuah kasih sayang.
yap, saya pun mengucapkan kata itu dengan begitu ikhlas ketika sms berbentuk permintaan tabayun itu menggetarkan henpon saya

tabayun,,,
sebuah kata yang terlihat begitu sarat dengan nilai2 ukhuwah,
dan bertujuan positif: mencari penjelasan atas beberapa kejanggalan di mata saudara yang lain
sering kali membutuhkan seni dan cara menempatkan diri terhadap orang yang di-tabayun-i
kebetulan ketika itu sang pen-tabayun sudah saya kenal dengan baik
jadi, proses tabayun pun relatif lebih lancar.
bahkan santai.
pertama karena memang sudah kenal
kedua karena perkara yang di-tabayun-kan adalah sesuatu yang biasa saja, hanya karena dilihat di waktu yang "tidak tepat" saja
terkadang suatu hal yang biasa akan menjadi begitu luar biasa ketika dilihat pada waktu yang tidak tepat dan orang yang salah
untunglah, alhamdulillah, yang kemarin melihat saya cukup bijak dalam menilai sesuatu.
jadi, proses tabayun tidak terkotori dengan prasangka yang akan menghancurkan makna dari tabayun itu sendiri

oya, saya jadi teringat dengan pengalaman ketika di kampus
banyak... banyak masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan cara yang lebih elegan
namun malah berkembang menjadi masalah besar yang melibatkan banyak orang.
masalahnya apa?
itu tadi..
proses tabayun yang tidak oke.
tabrak sana-sini.
mencari info dengan membabi buta.
korek kanankiri.
bahkan seringkali jadi kasakkusuk di kalangan tertentu.
dan semakin tidak elegan ketika kelompok tertentu tadi membicarakan hal tsb dgn "kode2" tertentu di beberapa orang yang lain
pasti, orang lain itu akan "tertarik" dan bertanya2.
what happened aya naon?
terus terang, saya pun kurang suka [bahkan sangat tidak suka] jika saya terlibat dalam suatu masalah [ini misal]
dan kemudian malah dijadikan bahan ghibah yang judulnya "mencari solusi" .

ah, kadang...
tak ada yang mau memunguti keping pembelajaran yang terserak

:(